Kamis, 29 Januari 2026

BJB masa Ridwan Kamil


KDM Sebut Elite BJB Zaman Ridwan Kamil “T0l0l”, Ada Apa?

Oleh Syafaq Ahmar 

Kata itu keluar juga. Tolol. Bukan dari warung kopi. Bukan dari kolom komentar. Tapi dari mulut Kang Dedi Mulyadi di forum resmi, di hadapan elite dan karyawan Bank BJB. Kalimatnya dingin, tapi maknanya panas: “Pintar saja tidak cukup. Pintar tapi tidak punya hati, tolol namanya.” Tidak menyebut nama. Tapi alamatnya jelas. Mengarah ke satu rezim pengelolaan. Zaman sebelumnya. Zaman yang merasa paling pintar.

Ini bukan umpatan. Ini diagnosa. KDM sedang membedah penyakit lama BJB: bank daerah yang terlalu sering dijadikan perpanjangan tangan kekuasaan, bukan mesin pelayanan publik. Kredit dititipkan. Proyek diarahkan. Rekomendasi bertebaran. Lalu macet. Lalu rakyat disuruh maklum. Di titik inilah kepintaran berubah jadi kelicikan. Dan kelicikan, kata KDM, tidak butuh gelar.

KDM tidak bicara teori. Ia bicara praktik. Ia klaim tak pernah menitipkan kredit. Ia malah meminjam resmi 3 miliar dan membayar. Pesannya telanjang: bank rusak bukan karena kurang pintar, tapi karena terlalu dekat dengan kekuasaan. Terlalu akrab dengan elite. Terlalu jauh dari integritas. Di sini “tolol” bukan soal IQ. Ini soal moral hazard.

Lalu ia geser isu ke teknologi. Pedas lagi. Aplikasi bukan proyek, katanya. TI bukan ladang rente. BJB tak boleh lemot. ATM harus jalan. Sistem harus terhubung. Sindiran itu menampar era ketika aplikasi menjamur tapi layanan tetap payah. Banyak aplikasi, sedikit solusi. Banyak anggaran, minim manfaat. Pintar? Mungkin. Punya hati pada publik? Entahlah.

KDM juga menyentil manajemen SDM. Yang kehujanan menagih dihargai rendah. Yang ongkang-ongkang di kantor gajinya tinggi. Terbalik. Ini kritik kelas pekerja dalam versi bank daerah. Ia dorong WFH berbasis kinerja. Ukur. Beri insentif yang adil. Lagi-lagi, ini bukan soal pintar. Ini soal keadilan.

Nama Ridwan Kamil memang tak disebut. Tapi waktu disebut. “Zaman dulu,” kira-kira begitu. BJB pernah dipimpin orang-orang pintar, kata KDM. Tapi pintar saja tidak cukup. Di sinilah publik membaca arah angin. Ada evaluasi diam-diam. Ada kemarahan yang tertahan. Ada pesan: bank daerah tak boleh jadi mainan elite kreatif yang gemar citra tapi abai disiplin.

Apakah ini perang terbuka? Belum. Ini lebih mirip peringatan keras. KDM sedang menata ulang garis. Bank harus independen. Tidak ada titipan. Tidak ada kompromi. Tidak ada “proyek TI”. Tidak ada kredit bermasalah karena telepon pejabat. Jika itu dilanggar, sebutannya jelas. Dan KDM tidak sungkan mengucapkannya.

Di ujung pidato, ia bicara sosial. Rumah rakyat. Yatim. UMKM. Ia tidak minta apa-apa. Ini gaya KDM: menutup dengan moral. Menyempurnakan kritik dengan tujuan. BJB, katanya, harus dicintai lebih dari istri. Kalimat bercanda. Tapi pesannya serius. Kalau bank rusak, rumah tangga ikut goyah.

Jadi, ada apa? Ada keberanian menyebut yang dulu tabu. Ada upaya memutus rantai lama. Ada sinyal bahwa era “pintar tapi tak berempati” sedang diakhiri. Apakah berhasil? Waktu yang menjawab. Tapi satu hal pasti: kata “tolol” itu bukan emosi sesaat. Itu palu. Dan palu biasanya dipakai untuk merobohkan bangunan lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Isi

Pelantikan Pengurus MUI Jawa Barat

sumber catatan