Sabtu, 31 Januari 2026

Pelantikan Pengurus MUI Jawa Barat

sumber catatan

Persib dan Bandung Lautan Api

1946: Dibalik Peristiwa Bandung Lautan Api, Ada Persib Yang Menolak Mati

Ada sebuah rahasia yang terkubur di bawah rumput stadion-stadion di Bandung. Sebuah rahasia yang menjelaskan mengapa bagi orang Bandung, Persib bukan sekadar klub sepak bola, melainkan sepotong harga diri yang diselamatkan dari abu pembakaran.

​Sebelum api membumbung di tahun '46, sepak bola Bandung lebih dulu dipaksa mati suri oleh kedatangan Jepang pada 1942. Harapan bahwa "Saudara Tua" akan membawa kebebasan segera sirna. Jepang tidak hanya menjajah tanah, mereka menjajah kegembiraan rakyat.

​Persib dilarang. Nama "Indonesia" dalam Persatuan Sepakbola Indonesia Bandung dianggap sebagai ancaman bagi fasisme Jepang. Stadion-stadion yang dulunya riuh oleh sorak-sorai rakyat, berubah sunyi dan mencekam. Lapangan bola beralih fungsi menjadi barak militer atau tempat latihan taiso (senam Jepang) yang wajib diikuti dengan penuh ketakutan.

​Pemain-pemain hebat era BIVB, seperti Moeradi, harus menyembunyikan identitas mereka. Sepak bola yang merdeka dilarang total; semua kegiatan olahraga harus di bawah kendali Tai Iku Kai. Para pemain yang dulu gagah kini kurus kering karena krisis pangan.

Mereka dipaksa bertahan hidup di tengah bayang-bayang romusha dan ancaman Kempeitai (polisi rahasia Jepang) yang siap menangkap siapa saja yang berani mengorganisir massa, termasuk melalui sepak bola.

​Maret 1946. Udara Bandung tidak lagi beraroma bunga, melainkan bau sangit mesiu. Ultimatum Sekutu turun: Bandung harus dikosongkan. Rakyat diberi pilihan pahit: menyerahkan kota ini utuh kepada penjajah Belanda (NICA) yang membonceng Sekutu, atau menghancurkannya agar musuh tak bisa menggunakannya.

​Para pejuang, termasuk tokoh-tokoh Persib, memilih jalan yang paling menyakitkan: Bandung Lautan Api.

​Rumah-rumah dibakar, gedung-gedung diledakkan, dan lapangan tempat mereka berlatih dilalap api. Bandung sengaja dibakar agar markas-markas strategis tidak menjadi benteng bagi musuh untuk kembali menjajah Indonesia. Di antara ratusan ribu orang yang berjalan tertatih menuju pegunungan di Selatan, ada tangan-tangan yang biasanya lincah menggiring bola. Mereka membawa kesedihan yang sama: melihat rumah dan stadion mereka hangus demi sebuah kedaulatan.

​Bagi para punggawa Persib, "perlawanan" bukan lagi soal mencetak gol. Banyak dari mereka melepas kostum biru-putih dan mengenakan seragam hijau lusuh pejuang.

Kaki-kaki yang biasanya melakukan tiki-taka lincah, kini harus berlari menghindari desingan peluru di gang-gang sempit Bandung.

​Namun, sejarah membuktikan bahwa api hanya bisa membakar fisik, bukan jiwa. Tahun 1950, ketika Bandung masih berupa puing dan luka, Persib bangkit kembali. Para pemain yang selamat dari perang—mereka yang masih memiliki sisa tenaga dari kerasnya hidup di pengungsian—berkumpul kembali. Lahirlah sosok seperti Aang Witarsa, sang "Kuda Terbang", yang berlari di lapangan seolah-olah ia sedang mengejar kemerdekaan yang hampir dirampas.

​Kemenangan Persib di era pasca-perang bukan sekadar angka di koran Sipatahoenan. Setiap gol adalah pesan kepada dunia:
​"Kalian bisa merepresi kami dengan bayonet Jepang, kalian bisa memaksa kami membakar kota kami sendiri, tapi kalian tidak akan pernah bisa membakar cinta kami pada Persib dan tanah air ini."

​Itulah mengapa, hingga hari ini, PERSIB Bandung memiliki hubungan batin yang sangat kuat dengan militansi pendukungnya. Persib lahir dari perlawanan, dibaptis oleh api Bandung Lautan Api, dan dirawat oleh cinta yang tak masuk akal.

​Persib bukan sekadar tim sepak bola. Persib adalah Bandung yang menolak untuk menyerah pada api sejarah.

#persibbandung #bandunglautanapi #sejarahpersib

Kamis, 29 Januari 2026

BJB masa Ridwan Kamil


KDM Sebut Elite BJB Zaman Ridwan Kamil “T0l0l”, Ada Apa?

Oleh Syafaq Ahmar 

Kata itu keluar juga. Tolol. Bukan dari warung kopi. Bukan dari kolom komentar. Tapi dari mulut Kang Dedi Mulyadi di forum resmi, di hadapan elite dan karyawan Bank BJB. Kalimatnya dingin, tapi maknanya panas: “Pintar saja tidak cukup. Pintar tapi tidak punya hati, tolol namanya.” Tidak menyebut nama. Tapi alamatnya jelas. Mengarah ke satu rezim pengelolaan. Zaman sebelumnya. Zaman yang merasa paling pintar.

Ini bukan umpatan. Ini diagnosa. KDM sedang membedah penyakit lama BJB: bank daerah yang terlalu sering dijadikan perpanjangan tangan kekuasaan, bukan mesin pelayanan publik. Kredit dititipkan. Proyek diarahkan. Rekomendasi bertebaran. Lalu macet. Lalu rakyat disuruh maklum. Di titik inilah kepintaran berubah jadi kelicikan. Dan kelicikan, kata KDM, tidak butuh gelar.

KDM tidak bicara teori. Ia bicara praktik. Ia klaim tak pernah menitipkan kredit. Ia malah meminjam resmi 3 miliar dan membayar. Pesannya telanjang: bank rusak bukan karena kurang pintar, tapi karena terlalu dekat dengan kekuasaan. Terlalu akrab dengan elite. Terlalu jauh dari integritas. Di sini “tolol” bukan soal IQ. Ini soal moral hazard.

Lalu ia geser isu ke teknologi. Pedas lagi. Aplikasi bukan proyek, katanya. TI bukan ladang rente. BJB tak boleh lemot. ATM harus jalan. Sistem harus terhubung. Sindiran itu menampar era ketika aplikasi menjamur tapi layanan tetap payah. Banyak aplikasi, sedikit solusi. Banyak anggaran, minim manfaat. Pintar? Mungkin. Punya hati pada publik? Entahlah.

KDM juga menyentil manajemen SDM. Yang kehujanan menagih dihargai rendah. Yang ongkang-ongkang di kantor gajinya tinggi. Terbalik. Ini kritik kelas pekerja dalam versi bank daerah. Ia dorong WFH berbasis kinerja. Ukur. Beri insentif yang adil. Lagi-lagi, ini bukan soal pintar. Ini soal keadilan.

Nama Ridwan Kamil memang tak disebut. Tapi waktu disebut. “Zaman dulu,” kira-kira begitu. BJB pernah dipimpin orang-orang pintar, kata KDM. Tapi pintar saja tidak cukup. Di sinilah publik membaca arah angin. Ada evaluasi diam-diam. Ada kemarahan yang tertahan. Ada pesan: bank daerah tak boleh jadi mainan elite kreatif yang gemar citra tapi abai disiplin.

Apakah ini perang terbuka? Belum. Ini lebih mirip peringatan keras. KDM sedang menata ulang garis. Bank harus independen. Tidak ada titipan. Tidak ada kompromi. Tidak ada “proyek TI”. Tidak ada kredit bermasalah karena telepon pejabat. Jika itu dilanggar, sebutannya jelas. Dan KDM tidak sungkan mengucapkannya.

Di ujung pidato, ia bicara sosial. Rumah rakyat. Yatim. UMKM. Ia tidak minta apa-apa. Ini gaya KDM: menutup dengan moral. Menyempurnakan kritik dengan tujuan. BJB, katanya, harus dicintai lebih dari istri. Kalimat bercanda. Tapi pesannya serius. Kalau bank rusak, rumah tangga ikut goyah.

Jadi, ada apa? Ada keberanian menyebut yang dulu tabu. Ada upaya memutus rantai lama. Ada sinyal bahwa era “pintar tapi tak berempati” sedang diakhiri. Apakah berhasil? Waktu yang menjawab. Tapi satu hal pasti: kata “tolol” itu bukan emosi sesaat. Itu palu. Dan palu biasanya dipakai untuk merobohkan bangunan lama.

sya'ban bulan ke delapan antara Rajab dan ramadhan

Bulan Sya'ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah, terletak di antara bulan Rajab dan Ramadhan.
 
Asal Nama
 
- Ada beberapa pendapat mengenai asal nama Sya'ban, salah satunya karena orang-orang Arab terdahulu berpencar mencari air atau berperang di bulan ini. Selain itu, juga ada yang berpendapat bahwa nama ini berasal karena bulan ini muncul di antara dua bulan mulia yaitu Rajab dan Ramadhan. Secara linguistik, kata Sya'ban juga dapat diartikan dari masing-masing huruf penyusunnya yang meliputi kemuliaan, derajat tinggi, kebaikan, kasih sayang, dan cahaya.
 
Keutamaan dan Peristiwa Penting
 
- Amalan Terangkat: Di bulan ini amalan umat Muslim selama setahun penuh akan diangkat kepada Allah SWT, bahkan amalan seumur hidup bagi orang yang telah meninggal juga akan diangkat.
- Puasa yang Disukai Nabi: Nabi Muhammad SAW sangat menyukai berpuasa di bulan Sya'ban, bahkan lebih banyak berpuasa di bulan ini dibandingkan bulan lainnya kecuali Ramadhan.
- Peristiwa Bersejarah: Perpindahan arah kiblat dari Masjidil Aqsha ke Ka'bah serta turunnya ayat yang menganjurkan membaca shalawat terjadi di bulan ini.
- Nisfu Sya'ban: Tanggal 15 Sya'ban dikenal sebagai Malam Nisfu Sya'ban atau Shab-e-Baraat, dimana dipercaya bahwa doa tidak akan tertolak dan merupakan waktu yang baik untuk beribadah, seperti membaca Surat Yasin dan berdoa.

Selasa, 27 Januari 2026

Senyum Shodaqoh


Kintunan Dewi Dee

Ustadz Adiredja DKM Masjid Jami kampung Rancabanyol ngarasa hemeng ku kalakuan jang Bun Benno, unggal beres sholat maghrib berjamaah nu lain mah tadarus sambil nunggu isya, ieu mah kalahkah melong kencleng sambil nyerengeh.

Kulantaran teu kuat nahan kapanasaran ustadz adiredja nyampeurkeun jang benno nu keur anteng neuteup kencleng bari nyerengeh

"Jang kunaon ditingali ku bapak mah unggal tas beres sholat teh kadon nyerengeh kanu kencleng?"
"Eh ari pak ustadz, sanes pak ustadz nyalira nu nyarios teh, yen senyum itu adalah shodaqoh" jawab jang benno "peupeuriheunmah abi teh teu bisa ngencleng ustadz"

"nya lain kitu maksudna atuh sujang, kudu nyerengeh kanu kencleng" tempas ustadz Adiredja bari neke jang benno.

buah khuldi (ruang dialog.co)

Sebuah Nama buah yang menyeret nabi Adam turun ke dunia




buah khuldi sebuah buah imajinasi yang akan menjadikan kekuasaan dan keabadian.
Dijaman sekarang buah khuldi yang nyata jika kita memperoleh sesuatu akan menganggapnya menjadi pemilik kekuasaan dan keabadian.



Rabu, 18 Juni 2025

Jejak Prabu Siliwangi

 Jejak Langkah Sang Raja Agung: Prabu Siliwangi


Prabu Siliwangi bukan sekadar nama besar dalam sejarah tanah Sunda—beliau adalah simbol kejayaan, kebijaksanaan, dan kekuatan spiritual yang masih hidup dalam ingatan masyarakat hingga kini. Meski kabut waktu menyelimuti kisah hidupnya, jejak-jejaknya masih tertinggal di tanah Parahyangan sebagai petilasan yang dijaga dengan hormat.


🗺️ Peta ini menunjukkan lima titik penting yang diyakini menjadi bagian dari perjalanan spiritual maupun sejarah Prabu Siliwangi:


🟤 Situs Batu Tulis (Bogor)


Di sinilah prasasti peninggalan Sri Baduga Maharaja ditemukan—bukti kuat eksistensi raja besar Pajajaran yang dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Batu ini menjadi saksi bisu kebesaran masa lalu Sunda.


🟤 Gunung Salak


Gunung ini dipercaya sebagai tempat beliau "ngahiang", menghilang secara gaib dan bersatu dengan alam. Banyak peziarah datang untuk mencari ketenangan dan pencerahan.


🟤 Goa Sri Baduga (Banten Selatan)


Petilasan ini diyakini menjadi tempat pertapaan atau tempat berdiamnya beliau di masa akhir kekuasaan. Aura magis masih terasa kuat di tempat ini.


🟤 Leuwi Sipatahunan (Kuningan)


Sungai kecil ini diyakini sebagai lokasi mandi atau tempat beliau mensucikan diri. Airnya dianggap keramat oleh masyarakat sekitar.


🟤 Situ Lengkong (Panjalu)


Konon, tempat ini pernah dikunjungi oleh Prabu Siliwangi untuk menyebarkan tata nilai kepemimpinan dan ketauhidan. Kini, menjadi danau sakral yang dijaga ketat.


🧭 Petilasan ini bukan sekadar lokasi, melainkan simpul budaya, sejarah, dan kepercayaan. Dari setiap tempat, kita bisa menangkap nilai luhur: menghormati alam, menjunjung leluhur, dan menjaga warisan tanah Sunda.


> “Sang Prabu boleh tiada secara raga, tapi ruh perjuangannya masih hidup di bumi Pasundan.”


Sumber :FB Aiko Mason 18/06/2025

https://www.facebook.com/100010762230610/posts/2506344399734277/?mibextid=rS40aB7S9Ucbxw6v




Daftar Isi

Pelantikan Pengurus MUI Jawa Barat

sumber catatan